Kumpulan Puisi Maurice Morghan Nikmat

Kumpulan Puisi Maurice Morghan Nikmat

Si Penyair Sunyi

GUGUR

Seikat senyum yang kukirim padamu
Di waktu kau kehilangan arah
Adakah telah tiada?
Kita, bunga yang mekar atas nama segala musim
Ranum Kuncup yang gemulai ditiup angin pasrah
Wewangi pelipur cinta yang tak kunjung tuntas
Daun-daun patah
Bunga-bunga resah
Dan kita, gugur patah resah di tepian musim yang kau sumpahi tiada..

September 2016

LELAKI SEPARUH JIWA

(“Apa yang lebih kekal daripada rindu
Selain tangis dan luka”)

Rindu padamu laksana nyala
Engkaulah api itu
yang menjadikanku membara
Sbab di hari yang usang
Daun-daun tangisku mati di pelataran hatimu
Tawa jadi koyak
Peluk enggan beradu
Cinta berderai gugur
Seharusnya jarak kita kuburkan di sini

Akulah lekaki separuh jiwa
Berharap jiwa ini kau rengkuh dengan baramu,
Hanguskanku dengan cumbumu,
Peluk aku dengan dadamu
Tapi biarlah kini angin mencatat gelisah kita
Tentang cinta yang tak mungkin bisa berkibar
Tentang senyum yang slalu mekar dalam kenangan
Dan tentang aku 
Yang separuh jiwa menganga dalam cinta
Yang akan terus memintal tangis dan luka
Pada nama yang menjadikanku tiada..

September sulung, 2016

DINGIN

Dari balik angin tatapku pecah
Jemari dingin
Enggan beradu lentik
Syairku layu
Rebah pada ranum bibirmu
Jarak pun kekal
Bersama angin..

Juni 2016

TENTANG RINDU

Rinduku adalah lagu
seperti angin yang slalu menyanyikan desahan untuk dedaunan
seperti malam yang melelapkan fajar demi cahaya
seperti aliran air yang risau akan bebatuan
dan seperti api yang membakar ketakutan jadi rasa yang tak pernah dapat kau kenal sebelumnya..

percayalah,
rindumu juga akan berlagu
bila pelukan kau taruh di akhir nada-nada penantian..

Agustus Merindu, 2016

KEMBARA

laksana kembara kita menjahit arah

kembali pulang membawa selempang merah

namun masihkah kita di surga gerah ?

membagi arah

dan terus mandi segelas darah ?

Januari cerah, 31

LUPA AKU

Lupa aku!

kapan terakhir kali puisiku kau tiduri

gaunnya berserakkan sepanjang ranjang

kutangnya kemayu di atas meja kacamu

helai rambutnya pun malu-malu kala kujumpa pada bantalmu

Seingatku, tak pernah puisiku kau tiduri

bahkan jauh sebelum gelap kutabuh

di dada dia masih terpekur..

 

Pabila dendam yang biadab

katakan padaku!

pabila cinta yang menderu

lupakan saja!

pabila doa yang serapah

kutuklah saja!

 

Karna kuyakin puisiku selalu menanti aku

tuk sua di penghujung senja

berbaring atas nama rindu

dan bercumbu dalam dalam gelisah lupa yang membahagiakan..

_Pada Mei yang hampir lelap, 2016_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s