Analisis Cerita Rakyat Daerah Sabu Raijua “RAI JUA NGA JAWA MIHA” Menurut Teori Struktur Naratif VLADIMIR LAKOVLEVICH PROPP

Oleh: Maurice Morghan Nikmat

  1. PENDAHULUAN
    • Latar Belakang

Kebudayaan selalu identik dengan manusia[1] sebab hanya manusia sajalah yang mampu berbudaya dari sekian banyak makhluk ciptaan di bumi ini. Manusia dengan kapasitas dan kemampuannya berusaha untuk berbudaya dari hari-ke hari, dari zaman ke zaman singkatnya sepanjang waktu. Keberagaman budaya yang tersebar di seantero jagat ini menegaskan keutamaan manusia sebagai makhluk rasional yang mampu mencipta, menghasilkan, dan berbudaya. Sekali lagi kebudayaan identik dengan manusia.

Adanya perbedaan antara individu yang satu dengan individu yang lain, cara pandang dan pola pikir yang juga berbeda satu terhadap yang lain serta latar tempat yang berbeda antara masyarakat ini dan masyarakat itu menghasilkan begitu banyak wujud kebudayaan. Dalam masyarakat lokal NTT dikenal berbagai hasil kebudayaan dari lisan sampai tulisan, tarian, lagu-lagu daerah, benda-benda kultur dan masih ada sederetan wujud kebudayaan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Perbedaan inilah yang menghasilkan banyak karya sastra yang sarat makna dan nilainya[2].

Dalam tulisan ini, penulis menyajikan sebuah karya sastra dari daerah selatan NTT, sebuah cerita rakyat dari pulau Sabu Raijua yang mungkin terdengar amat asing di telinga kita. Tulisan ini secara khusus menganalisis struktur naratif dari cerita rakyat Rai Jua dan Jawa Miha, menemukan aksi, fungsi dan motif dari cerita ini dan membuat perbandingan antara semua fungsi yang ditemukan. Selanjutnya, penulis juga akan menjelaskan fungsi-fungsi sastra lisan cerita Rai Jua Nga Jawa Miha yang berkembang di daerah penghasil tuak dan gula tersebut yang nantinya dapat dipakai dan diterapkan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu judul yang diambil adalah “Struktur Naratif Cerita Rai Jua Nga Jawa Miha Menurut Teori Vladimir Lakovlevich Propp”.

 

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan judul yang dambil dan bahan yang akan dianalisis, maka penulis menemukan dua rumusan masalah:

  • Bagaimanakah struktur naratif sastra lisan cerita Rai Jua nga Jawa Miha?
  • Apa fungsi sastra lisan cerita Rai Jua nga Jawa Miha dalam kehidupan manusia?

 

 

  • Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah yang ditemukan, maka penulis merumuskan tujuan:

  • Menjelaskan struktur naratif sastra lisan cerita Rai Jua nga Jawa Miha.
  • Menjelaskan fungsi sastra lisan cerita Rai Jua nga Jawa Miha dalam kehidupan manusia.

 

  • Metodologi Penulisan

Penulis mengambil sebuah cerita rakyat yang berasal dari kabupaten Sabu, Raijua yang berjudul Rai Jua nga Jawa Miha dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teori struktur naratif Vladimir Lakovlevich Propp. Oleh karena ketiadaan buku-buku sumber di perpustakaan yang membahas secara khusus tentang kebudayaan sabu, maka penulis melakukan wawancara via telepon, SMS dan e-mail serta media online demi mengumpulkan data-data yang dibutuhkan. Penulis juga kesulitan untuk mendapatkan teks asli. Adapun cerita yang terlampir dalam tulisan ini sudah merupakan bentuk kedua.

 

  1. KAJIAN TEORETIS PENELITIAN

2.1 Sekilas Tentang Vladimir Lakovlevich Propp

Vladimir Lakovlevich Propp (Rusia: Владимир Яковлевич Пропп) lahir pada 17 April 1895 di St. Petersburg. Ia berasal dari keluarga Jerman. Pada tahun 1913-1918 mengikuti pendidikan di Universitas St Petersburg jurusan filologi Rusia dan Jerman. Setelah lulus ia mengajar di sebuah sekolah menengah dan kemudian menjadi guru perguruan tinggi di Jerman. Pada tahun 1932, Propp menjadi anggota fakultas Universitas Leningrad (sebelumnya St. Petersburg University). Setelah tahun 1938, ia dipercaya untuk memimpin Departemen Folklore sampai menjadi bagian dari Departemen Sastra Rusia. Propp tetap anggota fakultas sampai kematiannya pada tahun 1970.[3]

 

2.2 Teori Struktur Naratif

Struktur naratif merupakan pokok bahasan yang secara serius dibicarakan oleh Vladimir Propp. Objek penelitiannya adalah cerita rakyat. Propp menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memunyai struktur yang sama. Artinya, di dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah, tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Di dalam struktur naratif, yang penting bukanlah tokoh-tokoh, melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut sebagai fungsi. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen), unit terkecil yang membentuk tema.[4] Bagi Propp, motif merupakan unsur penting sebab motiflah yang membentuk tema. Motif menurut Propp dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: pelaku, perbuatan dan penderita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua yaitu, unsur yang tetap yakni perbuatan dan unsur yang berubah yaitu pelaku dan penderita. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap, perbuatan, yaitu fungsi itu sendiri. Fungsi merupakan unsur yang stabil, tidak tergantung dari siapa yang melakukan, jadi persona sebagai variabel.[5]

 

 

  1. SEKILAS TENTANG SABU

3.1 Sekilas Tentang Sabu

Kabupaten Sabu Raijua merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Kupang dengan ibukotanya yaitu Seba. Kabupaten Sabu Raijua berjarak sekitar 445 mil (716,45 km) dari Kabupaten Kupang. Daerah ini dapat dijangkau melalui pelayaran laut selama lebih kurang 15–18 jam dengan menggunakan kapal fery dan sekitar 45 menit dengan menggunakan pesawat udara[6].

Kabupaten Sabu Raijua merupakan kabupaten yang paling selatan di Negara Republik Indonesia. Keadaan iklim di Pulau Sabu dipengaruhi oleh letaknya yang berdekatan dengan Benua Australia sehingga pada umumnya memiliki musim kemarau panjang dengan curah hujan yang rendah. Kabupaten Sabu Raijua terdiri atas beberapa pulau antara lain : Pulau Sabu, Pulau Raijua dan Pulau Dana. Kabupaten Sabu Raijua secara geografis terletak antara koordinat 100 25’7,12”LS – 100 49’45,83”LS dan 1210 16’10,78”BT – 1220 0’30,26”BT. Kabupaten Sabu Raijua meliputi 6 wilayah kecamatan dengan 42 desa dan 5 kelurahan. Kabupaten ini mempunyai luas wilayah 460,81 Km2[7].

  1. Topografi Daerah Sabu

Kondisi topografis Kabupaten Sabu Raijua hampir didominasi oleh ketinggian antara 0–100 meter di atas permukaan laut meliputi hampir sebagian luas wilayah Kabupaten Sabu Raijua (6 kecamatan). Kecamatan di Raijua, Sabu Barat dan Hawu Mehara berada di ketinggian 0-100 dpl. Berdasarkan keadaan batuannya, di Kabupaten Sabu Raijua terdapat kelompok jenis tanah dominan yaitu Alluvial, Grumosol, Litosol, Mediteran dengan tesktur tanah halus sampai kasar. Pada umumnya ditemukan gunung-gunung kapur yang terbentang di sepanjang kawasan kabupaten ini.[8]

Kabupaten Sabu Raijua beriklim kering. Dengan kondisi iklim seperti ini maka musim hujan sangat pendek yaitu 14 sampai 69 hari hujan. Musim kemarau di kabupaten ini berkisar antara 7-8 bulan. Musim hujan yang pendek itu hanya terjadi pada bulan Desember sampai Maret. Kabupaten Sabu Raijua memiliki kondisi wilayah dengan topografi bergunung-gunung dan berbukit dengan derajat kemiringan sampai 450. Permukaan tanah kritis dan gundul sehingga peka terhadap erosi. Topografi yang seperti ini menimbulkan isolasi fisik, isolasi ekonomi dan isolasi sosial, apalagi oleh kurangnya dukungan infrastruktur seperti jalan dan jembatan diberbagai kecamatan. Sementara transportasi kepulau-pulau tertentu agak mahal karena rendahnya frekwensi sarana perhubungan ke beberapa pulau dan tentunya juga memengaruhi harga barang dan jasa di kabupaten tersebut.

  1. Flora dan Fauna

Flora pada umumnya hampir sebagian terdiri dari padang rumput, pohon lontar (Borrasus Flabelifer),pohon pinus, gewang dan hutan mangrove (Rhizophora sp). Faunanya Hewan-hewan menyusui besar misalnya, kerbau, sapi, kuda. Hewan menyusui kecil, misalnya kambing, babi dan domba.

  1. Makanan Khas

Makanan khas dari Sabu yang terkenal dan digemari oleh orang di luar daerah tersebut adalah Gula Sabu. Gula sabu berbentuk cairan yang sangat kental dan lengkel berwarha coklat kehitaman dan disadap dari pohon lontar. Gula Sabu merupakan hasil olahan pertanian mayoritas penduduk Pulau Sabu dan Raijua. Hal ini tidaklah aneh karena pohon tuak sebagai sumber nira (bahan baku pembuatan gula sabu) terdapat hampir di setiap wilayah Pulau Sabu dan Raijua.

  1. Tentang Pesta Adat

Pesta adat rakyat yang populer adalah Pado’a yang dilaksanakan dua kali setahun yaitu pada musim menanam yang jatuh pada bulan oktober dan pada akhir musim panen yang jatuh pada bulan maret atau april. Kegiatan yang dilakukan pada pesta adat ini adalah tarian pado’a yang dilakukan secara kolosal dan bersama–sama. Pada malam hari dan siang hari juga diadakan hari taji ayam selama satu minggu penuh. Momen pesta adat ini juga dimanfaatkan sebagai ajang mencari jodoh.

 

  1. Sistem Kepercayaan dan Agama Asli Orang Sabu

Agama suku Sabu atau Agama Asli Sabu tidak diketahui namanya. Agama awal nenek moyang sabu sebelum mengenal kristen adalah Jingitiu, yang dirangkaikan dengan persembahan sebagai berhala pada benda atau batu, pohon atau mata air yang diyakini memiliki kekuatan dan diyakini melindungi daerah dan keluarga dari bencana dan penyakit. Dan hingga saat ini kepercayaan Jingitiu masih ada. Persembahan mereka kaum Jingitiu adalah persembahan yang selalu identik dengan warna merah seperti ayam merah dan babi merah.

Pada umunya orang menyebut agama suku Sabu dengan nama “jingitiu”, yang berasal dari kata “jingiti Au” yang diartikan atau ditafsir oleh para penginjil dan pendeta dahulu dengan nada lecehan yakni “jingi” artinya melanggar atau menolak, “ti” artinya dari dan “Au” artinya engkau (Tuhan). Jadi dapat diartikan secara harafiah bahwa Jingitiu adalah agama yang menolak Tuhan[9]. Para Mone Ama[10]  pada waktu itu menerima penyebutan tersebut karena ketidakmengertian mereka terhadap arti dari istilah penyebutan tersebut.

 

  1. OBJEK KAJIAN

Objek kajian dari tulisan ini adalah cerita rakyat Rai Jua nga Jua Miha yang berkembang di pulau Sabu tepatnya di Raijua.

 

Cerita dalam bahasa Sabu:

 

Rai Jua (Jua Miha) nga Rai Jawa (Jawa Miha)

Pa awe uru he ane era hewue keluarga, heda’u ama nga ina nga do d’ue ana mo mone muri mada pa hewue rai Raijua. Ne ama ro do weka ke, rowi ne na mada no ad’o ke do ngaddi. Ana do mone a’a ne nengara no Jua Miha, nga do mone ari ne nengara no Jawa Miha. Pa d’ara lipe d’iri nanne Jua Miha do rou kabu nga kae nga’a, tapulara Jawa Miha ad’o do rou kabu. Ro’u kae nga’a nga kabu ne ke ne pewala Jua Miha nga Jawa Miha,  nanne lema ke do j’adi ta ru tada natu ama ro rowi ad’o ke do ngaddi. Minaherre ke ama ro ne tada ne ana he. Ki do rou kabu nga kae nga’a Jua Miha (ana mone a’a) nga ki ad’o do rou kabu nga kae nga’a Jawa Miha (ana mone ari).

Pa d’ara helodo, ta pedoa ke ro ama no ne ana do mone a’a ne (Jua Miha) dje pedai li ama no nga no. Ae ne li pedai ama no nga no. Hewue ne li pedai Ama no do weka ke hakku ta peb’agi ne kaja nga kete’e pa Jua Miha nga Jawa Miha. Rowi Jua do mone a’a, hakku do ta nara ne kaja ama no do rihi ae nga ari no Jawa Miha. Tapulara ahhi ne li pedai ama no pa Jua ta li ta kako la ro’a j’ami la hud’i b’ada rai rowi ama no ta hemole ta nga’a hed’ai do ena. Ta kako ke Jua nga tunge mengallu d’ara la j’ami nga henao ta b’ale nga nara hed’ai natu ta wie ama no ta nga’a rowi ama no do weka ke. Nga li jaji ama no pa no ki nga nara no ne hed’ai do d’ei ama no do ta wie no helama tona ie nga lewa kaja ama no pa no. Rowi nanne lema ke ne tu Jua ta kako la j’ami nga aggu kepoke.

Pa d’ara nga pedai Jua nga ama no, ne li pedai ro do renggi lema ro ina no ta Jua do nara ne kaja ama no do rihi ae nga ti ari no Jawa Miha. Rowi nanne ke ta pika ke ina no pa Jawa, ta Jua do ta nara do ae nga no. Rowi ina no wae d’o Jawa ta nara hudi nga ti kaja ama no. Hakku nga awe nanne lema ta li ke ina no pa Jawa Miha ta kako lema la j’ami la hudi b’ada rai midje nara ta wie ama no hed’ai do ena mi do li ama no. Ta kako ke Jawa lema nga aggu kepoke pedute ne li ina no, tapulara ad’o do toi ro ama no, Jua pekaddi pedutu li ama no.

Tui ro ne hud’i b’ada ta b’ale Jawa Miha uru nga Jua nga aggu ne nara no. Ta da’i la ammu ne hed’ai nara Jua ta hogo ke ro ina no pedutu nga do d’ei ama no dje pe naja pa ama no li pika ta nanne ke ne heda’i nara Jua Miha. Heda’i do ena ne nga’e ro ama no, nga tunge ta ana no Jua do nara heda’i do ena tarra, tapulara hed’ai do nga’e ro ama no hed’ai nara Jawa Miha. Rowi toi d’o ro ama no ta nanne hed’ai nara Jawa Miha ana no do mone ari ne. ane ama no hed’ai nanne nga ti nara Jua ana no do mone a’a ne pedutu nga do li ama no ta Jua  tatu ta nara hed’ai do ena ta wie ama no midje ta wie no ri ama no ne kaja ama no pa no. Rowi do ena tarra ke ne hed’ai nanne pedutu nga lai de’i ama no hakku do tatu ke ama no ta wie no helama tona ie.

Mi do li ngine ne ta Jawa Miha ad’o do nga rou kae nga’a nga kabu, tapulara Jua Miha do era nga rou kae nga’a nga kabu. Mi pa tima ta d’ai awe ta wie no helama tona ie uru j’ara ama no ta parru pa kae nga’a nga kabu Jawa Miha natu ta peketu ke ta Jua Miha we Jawa Miha. Rowi ta meda’u ke Jawa ta toi ro ama no ta do pelue ama no, hakku no ta pe uku ke pa ama no ta no ke Jua.  Jawa nga ina no ta pe li ke ta wutu kae nga kabu Jawa ro kuri b’ada do nara no ngine ne nga ti j’ami. Midje ta era Jawa nga rou kae nga kabu midje parahadja ama no ta Jua Miha. Ta d’ai ta pe doe ke ro ama no dje keb’ali ta petu tarra ta Jua Miha ke nanne, ta li ke Jawa ta no ke ne Jua Miha ne. Natu ta peketu ne li pedai Jawa ta parro ke ro ama no ne kae nga’a nga kabu no. Rowi do wute ke ro kuri b’ada ngine hakku kae nga’a nga kabu Jawa do rou ke mi Jua Miha he. Rowi minaherre ke ta wie ke Jawa ro ama no ne lua helama tona ie, nga do i’a ama no ta Jua Miha ana no mone a’a ne  tapulara ad’o dae Jua do b’ale nga ti ro’a j’ami. Nanne ke ne lai pe li Jawa Miha nga ina no.

Ta moko ne lai do na anne hari elle ta b’ale ke Jua nga aggu ne b’ada nara no. Ta d’ai Jua la ammu, alla ke pe wie pa Jawa ne kaja ama no do ne petu ne unu Jua Miha. Rowi ta toi ke ro Jua ta alla ke ta wie ro ama no ke kaja ama no nga wie no ne lua helama tona ie ta keb’ali Jua pa ama no ta ninga ne wie ne unu no pa Jawa. Ta g’ig’a ke ama no ta alla ke no pe hala wie nga lema alla ke no ta pelue ro ana no do mone ari ne Jawa Miha. Ta minami ri rowi lodo ke Jawa ngan tu nge mengallu d’ara nga aggu ne kaja do nara no ngati ama rowi ta pelue ro no ama no.[11]

 

 

 

Cerita dalam bahasa Indonesia:

 

Rai Jua dan Jawa Miha

Dahulu kala, ada sebuah keluarga, seorang ayah dan ibu bersama dua anak laki-laki mereka hidup di pulau Raijua. Ayah mereka sudah lanjut umurnya, karena itu matanya sudah kabur atau buta dan tidak bisa melihat. Anak yang sulung, bernama Rai Jua, dan anaknya yang bungsu bernama Jawa Miha. Jua Miha adalah orang yang berbulu dada dan tangannya, sementara Jawa Miha tidak berbulu. Bulu tangan dan dada itulah yang membedakan Jua Miha dengan Jawa Miha sekaligus itu identitas keduanya bagi ayah mereka yang tidak bisa melihat. Sang ayah hanya bisa mengenal anak-anaknya melalui indra perabaan. Sang ayah mengenal Jua dengan cara meraba dada dan tangannya. Kalau berbulu, itu adalah Jua Miha (anak sulugnya), dan kalau tidak berbulu itu adalah Jawa Miha (anak bungsunya).

Suatu hari, sang ayah memanggil anak sulungnya (Jua Miha) dan berbicara kepada Jua.  Banyak hal yang dikatakan ayahnya kepada Jua Miha. Antara lain, ayah mereka sudah tua, oleh sebab itu, akan membagikan harta warisan kepada Jua Miha dan Jawa Miha. Sebagai anak sulung, maka Jua Miha akan mendapatkan harta yang lebih banyak dari adiknya, Jawa Miha. Namun, salah satu yang penting dari perkataan itu adalah, Jua disuruh ayahnya pergi ke hutan untuk berburu karena ayahnya ingin makan daging yang paling enak dan lezat (tidak disebutkan daging apa). Dengan senang hati, pergilah Jua untuk berburu dengan harapan, ketika pulang akan membawa hasil buruannya untuk disantapkan kepada ayahnya yang sudah lanjut umurnya. Ayahnya juga berjanji kepada Jua, bila dia mendapatkan daging yang ayahnya sukai, maka Jua akan diberkati oleh ayahnya sekaligus diberikan warisan. Hal itu yang membuat Jua semangat menggebu-gebu. Jua pergi berburu dihutan dengan membawa busur dan panah.

Ketika Jua Miha dan ayahnya berbicara diruang tamu, ternyata perkataan itu, didengar oleh ibu mereka, bahwa Jua Miha akan mendapatkan harta warisan dari ayahnya, yang tentunya lebih banyak dari pada sang adiknya, Jawa Miha. Maka dari itu, sang ibu memberitahu kepada Jawa Miha, bahwa Jua akan mendapatkan jatah warisan dari ayahnya yang lebih baik. Di lain pihak, sang ibu tidak ingin Jua Miha yang dapat harta yang lebih baik daripada Jawa Miha. Pada saat itu juga, sang ibu menyuruh Jawa Miha pergi berburu di hutan agar mendapatkan hasil buruan yang enak untuk diberikan kepada ayahnya. Maka pergilah Jawa Miha dengan busur dan panah untuk berburu atas perintah sang ibu, semantara ayahnya tidak tahu, sedangkan Jua Miha pergi berburu atas perintah sang ayah.

Setelah sekian lama berburu, maka Jawa Miha pulang terlebih dahulu dari pada Jua dengan membawa hasil buruan. Sesampai di rumah, hasil perburuan Jawa dimasak oleh ibunya seperti yang disukai oleh ayahnya kemudian dihidangkan kepada sang ayah dan mengatakan itu adalah hasil buruan Jua Miha. Makanan itu sangat enak dan lezat, dan sangat disukai oleh ayahnya. Dia sangat senang Jua bisa membawakannya makanan yang enak itu. Padahal itu adalah hasil buruan Jawa Miha. Namun, ayahnya tidak tahu bahwa itu adalah hasil perburuan Jawa Miha sang anak bungsu. Sang ayah mengira bahwa itu adalah hasil buruan dari Jua Miha anak sulungnya, sama seperti yang dia perintahkan sebelumnya bahwa Jua Miha harus mendapatkan daging yang enak dan lezat untuk dihidangkan kepada ayahnya agar sang ayah mewariskan harta kepada Jua Miha. Karena makanannya enak dan lezat, seperti yang diidamkan sang ayah sebelumnya, maka patutlah ayahnya memberkati Jua (Padahal ini adalah Jawa Miha, anak bungsunya, bukan Jua Miha seperti yang dia kira). Seperti yang disebutkan sebelumnya, Jawa Miha tidak mempunyai Bulu di tangan dan dada, sedangkan Jua Miha memiliki bulu pada tangan dan dadanya. Seperti biasanya, pada saat hendak diberkati, maka sang ayah harus meraba tangan dan dada Jawa Miha agar bisa dipastikan ini Jawa atau Jua. Karena Jawa takut ayahnya tahu bahwa dia sedang menipu ayahnya. Maka dia menyamar jadi kakaknya (Jua). Dengan persekongkolan Jawa dengan ibunya, maka dibungkuslah tangan dan dada Jawa dengan kulit binatang yang tadi dia buru dari hutan. Ini dilakukan agar Jawa mempunyai bulu tangan dan dada supaya ayahnya yakin bahwa itu adalah Jua Miha. Pada saat ayahnya memanggil, dan bertanya apakah ini benar adalah Jua Miha, Jawa Miha pun menjawab bahwa dia adalah Jua Miha. Untuk memastikannya, sang ayah harus meraba tangan dan dadanya. Karena sudah dibungkus dengan kulit binatang tadi, maka tangan dan dada Jawa sudah berbulu sama seperti Jua Miha. Karena itu, diberkatilah Jawa oleh ayahnya, dan dia (sang ayah) anggap itu adalah Jua Miha, anaknya yang sulung, padahal Jua Miha belum pulang dari hutan, tempatnya berburu. Ini adalah persengkokolan Jawa Miha dengan Sang ibu.

Setelah Jawa Miha diberkati ayahnya, maka Jua Miha pulang dengan hasil buruannya. Ketika Jua Miha tiba di rumah, sang ayah sudah memberikan atau memberkati Jawa dengan warisan yang sebenarnya itu adalah milik Jua Miha. Saat Jua Miha tahu bahwa ayahnya sudah memberikan warisan kepada Jawa (yang seharusnya milik Jua), maka Jua bertanya, mengapa ayahnya memberikan warisan yang seharusnya hak Jua, tetapi diberikan kepada Jawa. Ayahnya baru kaget bahwa dia sudah memberkati orang yang salah, dan sadar bahwa dia sudah ditipu oleh anak bungsunya Jawa Miha. Apa mau dikata, Jawa Miha sudah pergi dengan senang hati dan membawa harta miliknya dari hasil tipu muslihatnya.[12].

 

 

 

 

  1. STRUKTUR NARATIF CERITA RAI JUA NGA JAWA MIHA MENURUT TEORI VLADIMIR LAKOVLEVICH PROPP

 

5.1 Struktur Naratif Sastra Lisan Cerita Rai Jua nga Jawa Miha

Dalam cerita Rai Jua Nga Jawa Miha ditampilkan beberapa tokoh seperti: Rai Jua (anak sulung), Jawa Miha (anak bungsu), Ibu dan Ayah. Keempat tokoh ini muncul dalam keseluruhan cerita, mulai dari awal sampai akhir. Rai Jua dalam cerita ini ditampilkan sebagai tokoh yang selalu menuruti perkataan ayahnya. Ciri-cirinya ialah memiliki bulu di dada dan di tangannya. Sebaliknya, Jawa Miha tidak memiliki ciri-ciri fisik seperti kakaknya Rai Jua. Perbedaan fisik inilah yang kemudian menjadi sarana bagi ayahnya untuk mengenali satu terhadap yang lain. Tokoh berikutnya adalah sang ayah. Sang ayah dikisahkan sebagai orang tua yang sudah lanjut umurnya, matanya kabur dan tidak bisa melihat. Selanjutnya, tokoh Ibu tidak terlalu ditonjolkan dalam cerita. Ibu hanya tampil satu kali sebagai tokoh yang menciptakan permasalahan. Setelah itu tokoh ibu tidak lagi muncul sampai akhir cerita.

Dalam struktur naratif Propp, yang penting bukanlah tokoh-tokoh, melainkan aksi tokoh-tokoh yang disebut sebagai fungsi. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen), unit terkecil yang dapat membentuk tema. Bagi Propp, motif merupakan unsur penting sebab motiflah yang membentuk tema. Motif dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: pelaku, perbuatan dan penderita yang kemudian dikelompokkan lagi menjadi dua yaitu, unsur yang tetap dan unsur yang berubah.

  • Pelaku

Setidaknya ada empat pelaku utama dalam cerita Rai Jua Nga Jawa Miha, yakni: Rai Jua (anak sulung), Jawa Miha (anak bungsu), Ibu dan Ayah.

  • Perbuatan

Aksi dari tokoh-tokoh dalam cerita Rai Jua Nga Jawa Miha adalah: memberkati, menyuruh, berburu, mendengar, bertanya dan menipu. Aksi atau Perbuatan-perbuatan ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

Memberkati adalah fungsi yang dilakukan oleh tokoh ayah ketika ia telah mendapatkan dan menikmati santapan buruan sesuai yang dikehendakinya. Berkat merupakan konsekuensi logis dari pemenuhan akan permintaan ayahnya. Aksi selanjutnya yaitu menyuruh. Menyuruh adalah tindakan yang dibuat oleh dua tokoh yakni ayah dan ibu. Ayah menyuruh anak sulungnya untuk pergi berburu dan ibunya menyuruh anak bungsu untuk pergi berburu demi mengelabuhi ayahnya.

Berikutnya, berburu adalah aksi penting yang dilakukan oleh kedua anak tersebut. Oleh anak sulung berburu adalah tindakan yang dikehendaki oleh ayahnya, sedangkan oleh anak bungsu disuruh oleh ibunya demi tujuan menipu semata. Lalu mendengar adalah aksi yang dibuat oleh sang ibu untuk mengetahui semua isi pembicaraan antara sang ayah dan anak sulung. Ini adalah aksi awal yang menandai aksi berikutnya yaitu aksi menipu yang kemudian menjadi titik puncak munculnya masalah dalam cerita. Dan aksi yang terakhir adalah menipu. Menipu menjadi titik puncak dalam cerita ini, menjadi aksi yang menimbulkan konflik. Konflik muncul akibat penipuan yang dilakukan oleh ibu lewat persekongkolan dengan anak bungsunya.

  • Penderita

Penderita utama dalam cerita ini adalah anak sulung dan sang ayah yang dikenai aksi penipuan. Akibatnya sang ayah memberkati anak bungsu dan melimpahkan harta dan warisan kepada si bungsu, dan anak sulung kehilangan hak kesulungannya. Selanjutnya, penderita lainnya adalah anak bungsu yang dikenai aksi menyuruh; oleh sang ibu, memberkati; oleh sang ayah.

 

Setelah dianalisis semua aksi atau motifnya dan dibuat perbandingan antara semua fungsi itu, maka ditemukan 31 fungsi seperti yang ditemukan oleh Propp. Propp menemukan bahwa jumlah keseluruhan fungsi tidak lebih dari tiga puluh satu fungsi. Fungsi-fungsi tersebut disusun sebagai berikut:

1. Hidup sebuah keluarga (ayah, ibu, 2 anak laki-laki) 16. Ayah menikmati makanan, senang
2. Ayah sedah lanjut usia, tidak bisa melihat 17. Ayah hendak memberkati anak bungsu
3. Ayah panggil anak sulung (rai jua) 18. Takut diketahui (tipu ayah)
4. Memberitahu akan membagikan warisan 19. Menyamar jadi anak sulung
5. Hak kesulungan 20. Persekongkolan ibu dan anak bungsu
6. Menyuruh pergi berburu 21. Ayah berkat anak bungsu (jawa miha)
7. Janji ayah 22. Anak sulung pulang
8. Ibu mendengar pembicaraan antara ayah dan anak sulung (rai jua) 23. Bertanya pada ayah
9. Ibu beritahu anak bungsu (jawa miha) 24. Ayah sadar bahwa ia sudah ditipu
10. Ibu suruh anak bungsu berburu 25. Anak bungsu pergi bawa harta
11. Anak bungsu pulang lebih dahulu 26. Harta yang diterima anak bungsu
12. Ibu masak hasil buruan 27. Harta yang diterima anak sulung
13. Memberi hasil buruan pada ayah 28. Dampak pada mata pencaharian dan kehidupan sosial
14. Menipu sebagai anak sulung 29. Penyesalan anak sulung
15. Ayah tidak tahu 30. Anak bungsu merantau
  31. Anak sulung tetap tinggal bersama ayah

 

Yang terpenting dalam struktur naratif bukanlah tokoh-tokoh melainkan aksi dari tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut sebagai fungsi. Bukan tokoh ibu, ayah, anak sulung dan anak bungsu melainkan aksi dari tokoh seperti: memberkati, menyuruh, berburu, menipu, mendengar, bertanya dan sebagainya.

 

 

5.2 Fungsi Sastra Lisan Cerita Rai Jua nga Jawa Miha

Sebagaimana sebuah cerita mampu memberi nilai, dorongan dan sesuatu yang berdaya guna maka berdasarkan analisis penulis, ditemukan beberapa fungsi sastra lisan cerita Rai Jua nga Jawa Miha dalam kehidupan manusia, yakni:

  • Fungsi moral

Dalam cerita Rai Jua nga Jawa Miha, ditunjukkan contoh sikap moral yang keliru, dimana seseorang bisa melakukan apa saja termasuk menipu sekalipun hanya untuk mencapai tujuannya amat merugikan orang lain. Realitas sifat dan sikap dari anak bungsu dalam cerita rakyat Sabu Raijua yang bekerja sama dengan ibunya untuk menipu sang ayah dengan melakukan tindakan penyamaran dan penipuan setidaknya juga mewakili permasalahan moral sosial yang masif terjadi di bumi NTT ini. Sikap menipu itu sendiri dapat membentuk pibadi yang lemah dan tidak berintegritas, mengacaukan segala kebaikan yang pernah ada dalam pribadi manusia. Lebih lanjut perbuatan menipu yang secara moral tidak dapat dibenarkan ini akan mengakibatkan hal-hal yang bersifat destruktif bagi kehidupan manusia.

  • Fungsi pedagogi

Cerita Rai Jua nga Jawa Miha dapat dijadikan sebagai instrumen pendidikan. Bagaimana seharusnya bertindak, seperti apa harusnya menempatkan diri, memiliki rasa malu, tahu bagaimana harus berjuang dan tidak menyerah dengan keadaan apalagi putus asa begitu saja. Segala perbuatan-perbuatan buruk yang ditemukan dalam cerita memberikan banyak didikan untuk bagaimana bersikap dan bertindak yang benar dan sesuai sehingga penghargaan dan penghormatan dapat diterima oleh semua manusia dalam kehidupan ini.

  • Fungsi kompetisi

Anak sulung terjebak dalam keegoisan si anak bungsu dan anak bungsu akhirnya menikmati kebahagiaan yang sebenarnya bukan merupakan miliknya. Entah susah ataupun senang, setiap manusia hanya perlu menjalani kehidupannya dengan penuh rasa tanggung jawab. Usaha dan kerja keras untuk mencapai kesuksesan menjadi spirit untuk berkompetisi dalam kerasnya hidup sekaligus menentukan apakah manusia layak untuk menikmati hidup yang baik atau tidak.

 

 

 

  1. PENUTUP

Di antara karya seni yang lain, karya sastra selalu menampilkan kualitas estetis yang paling beragam sekaligus paling tinggi. Karya sastra semakin bernilai melalui unsur-unsur di dalamnya, plot, kekuatan lirik, fungsi, nilai, makna, pencitraan, motif cerita, tema dan sebagainya. Dalam sastra lisan cerita Rai Jua nga Jawa Miha, melalui bantuan teori struktur naratif Vladimir Propp ditemukan struktur sastra lisan yang kaya akan aksi, termuat dalam 31 fungsi yang membuat kita memahami tema sebuah cerita lisan dari motif-motif yang digali. Bukan hanya itu saja, cerita Rai Jua nga Jawa Miha juga memberi sumbangan yang besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia di antaranya; dalam hal moral, pedagogi dan kompetisi.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

BUKU

Blolong, Raymundus. Dasar-Dasar Antropologi. Ende: penerbit Nusa Indah, 2012.

Ratna, Kutha Nyoman. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: penerbit Pustaka Pelajar, 2009.

—————————. Estetika Sastra dan Budaya. Yogyakarta: penerbit Pustaka Pelajar, 2009.

 

 

INTERNET

Biografi Singkat Vladimir Lakovlevich Propp (Online) .https://en.wikipedia.org/wiki/Vladimir_Propp, diakses 25 Mei 2016.

Sejarah Daerah Sabu (Online), https://www.sejarahsabu.com %blog%internet, diakses 26 Mei 2016.

 

Topografi Daerah Sabu (Online), https://topografisabu.com, diakses 2 April 2016.

 

Cerita Rakyat Daerah Sabu “Rai Jua nga Jawa Miha” (Online), https://blogspot.elkana.goro.leba.com.

 

WAWANCARA

Adel Flansia Riwu (Kupang), Wawancara via telepon

Adhy Richard Riwu (Kupang), Wawancara via telepon dan E-mail

Asyer Armenius Biha (Sabu), wawancara via telepon dan SMS

Reynaldhi Rotu Ludji (Sabu Raijua), Wawancara via telepon

[1] Raymundus Rede Blolong, SVD, Dasar-Dasar Antropologi (Ende: Nusa Indah, 2012), p. 67.

[2] Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, S.U, Estetika Sastra dan Budaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), p.27.

 

 

[3] https://en.wikipedia.org/wiki/Vladimir_Propp. Diakses pada Senin 25 Mei 2016.

[4] Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, S.U, Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), p.132.

[5] Ibid., p. 133.

[6] https://www.sejarahsabu.com %blog%internet. Diakses pada Rabu 26 Mei 2016.

[7]Pembagian wilayah Kabupaten Sabu Raijua adalah sebagai berikut ; Kecamatan Hawu Mehara (10 desa), Kecamatan Raijua (4 desa dan 2 kelurahan), Kecamatan Sabu Barat (17 desa dan 1 kelurahan), Kecamatan Sabu Liae (12 desa), Kecamatam Sabu Tengah (6 desa), Kecamatan Sabu Timur (7 desa dan 2 kelurahan).

[8] https://topografisabu.com Diakses pada Sabtu 2 April 2016.

 

[9] Nama ini adalah penyebutan yang berikan oleh penginjil Potugis yang datang ke Sabu pada Tahun 1625. Mereka menyebut dengan Gentios (kafir/ tidak mengenal tuhan). Yang menurut pelafalan orang Sabu adalah jingitiu. Hal tersebut dapat dilhat juga dalam penyebutan mereka terhadap agama suku di Belu yang dilafalkan oleh orang Belu dengan Dintiu. (Adel Flansia Riwu, dalam wawancara via telepon).

[10] Pimpinan agama suku dalam kebudayaan sabu.

[11] Cerita dalam bahasa daerah Sabu ini sudah merupakan terjemahan yang disesuaikan dengan situasi zaman sekarang (second hand), atau dapat dikatakan tidak asli lagi.

[12] Posted by Elkana Goro Leba at 9/26/2015 01:26:00 am. Cerita ini mirip dengan cerita Esau dan Yakub dalam Alkitab perjanjian lama, yaitu “Kejadian pasal 27”.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s